Bulan Jingga dalam Kepala

Bulan Jingga dalam Kepala

Read Online Bulan Jingga dalam Kepala

Meski sebelumnya "aktivis pejuang demokrasi" ini sudah dikenal sebagai penyair setelah merilis buku antologi puisi, seperti Catatan Bawah Tanah (1993), Sejarah Lari Tergesa (2004) dan Dongeng untuk Poppy (2007), ternyata predikat itu belum membuatnya puas. Tak jauh dari kehidupan dunia aktivis, yang selama ini telah digeluti Fadjroel, novel ini pun bercerita tentang rezim kekuasaan Orde Baru dan pasca keberhasilan gerakan mahasiswa dalam menumbangkan sang diktator yang ternyata tak banyak mengubah keadaan. Tak pelak jika idealisme Fadjroel yang konsisten untuk terus menegakkan keadilan, membuat aktivis satu ini ditikam rasa kecewa karena reformasi yang dicita-citakan mahasiswa ternyata tak bisa mengantarkan Indonesia menjadi lebih baik. Meski Fadjroel tak menceritakan tokoh utama dirinya sendiri melainkan tokoh bernama Surianata, tapi tokoh utama itu tetap tak dapat ditepis sebagai alter ego-nya, sehingga novel ini tak terelakkan merupakan sebuah memoar dari perjalanan hidup sang pengarang. Surianata (dan gerakan mahasiswa) sebenarnya sudah berhasil "menumbangkan" rezim kekuasaan jendral Suprawiro dan menduduki Istana Merdeka bahkan berhasil membunuh sang diktator itu lalu menggantungnya di halaman Istana. Kedua penghianat itu, lalu "menjatuhkan" hukuman mati pada Surianata dengan tuduhan telah membunuh Suprawiro dan Bunga Pratiwi, cucu jendral Suprawiro yang ikut tertembak saat Surianata melindungi Bunga Langit. Di sisi lain, karena tak ingin menerima kenyatan pahit jika Surianata melarikan diri (seperti Zanuar dan Abah Cianjur), maka Lesmana Abadi --kepala penjara Sukamiskin-- pun mengakhiri Surianata dan segera mengeksekusi aktivis dari ITB itu di hadapan regu tembak, di Tangkuban Perahu. Tidak bisa ditepis, jika keteguhan Surianata yang teguh memegang prinsip untuk "menerima hukuman" yang dipesan oleh jendral Yogaswara merupakan pesan kemanusiaan akan komitmen untuk terus menjunjung tinggi keadilan dan membenci tindak kebinatangan. Tak pelak, novel ini pun memiliki "nilai sejarah" apalagi bercerita perjuangan gerakan mahasiswa dalam meruntuhkan rezim otoriter Orba yang membuat rakyat menderita. Karena novel ini adalah sebuah novel sejarah politik Indonesia yang bercerita detik-detik terakhir kekuasaan rezim Orba yang selama ini luput dari garapan para sastrawan negeri ini.*** *) n.

Bersama rekan-rekan kuliahnya di ITB, Fadjroel pernah menggelar unjuk rasa menentang kedatangan Menteri Dalam Negeri (waktu itu dijabat oleh Jendral Rudini) ke kampus mereka. Fadjroel yang kuliah di jurusan Teknik Kimia kemudian menjadi salah seorang aktivis yang ditangkap aparat sebagai buntut peristiwa yang terjadi pada 1989 itu. Kenang-kenangan semasa kuliah dulu nyaris digulirkan semuanya ke dalam novel setebal empat ratusan halaman ini dengan Surianata sebagai karakter utama. Betapa tidak, Surianata diceritakan sebagai seorang aktivis mahasiswa ITB jurusan Teknik Kimia yang radikal sekaligus amat menggandrungi sastra. Peristiwa yang dijadikan latar belakang novel ini adalah masa-masa menjelang kejatuhan Presiden Soeharto yang telah bertakhta selama 32 tahun dengan Orde Barunya. Fadjroel memang sedikit mengaburkannya dengan menyebut waktunya sebagai tahun x dan Soeharto disamarkan menjadi Jendral Soeprawiro. Tentu, peristiwa ini melayangkan memori kita pada 1998, saat Soeharto terjungkal dari kursi kepresidenannya oleh sebuah aksi people power yang marak di seluruh negeri dan berpuncak di halaman gedung MPR/DPR Jakarta. Surianata tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri untuk kesalahannya yang satu itu meski telah ditebusnya dengan vonis hukuman mati sekalipun. Seharusnya novel ini bisa jadi karya menarik seandainya Fadjroel tidak tergoda untuk mengumbar terlalu banyak hal.

Surianata, Takdir, Shinta, Bunga Langit, Chairil, mereka bicara dalam bahasa, kosa kata dan konteks yang sama. Hanya Lesmana Abadi, Asep Cianjur, Zanuar, serta (kadang-kadang) Takdir yang memberi warna pada novel yang penuh bahasa prosais ini. Lesmana yang secara panjang lebar digambarkan serupa reinkarnasi Gobbels, Asep-Zanuar yang oportunis, Takdir yang idealis tapi jauh, jauh lebih realis dibanding Surianata yang naifnya tak tertolong. Pikiran Surianata memang prinsipil: ia sendiri memeluk kematian ketika dirinya yang humanis ini menembak seorang anak kecil. Ia mengungkit potongan-potongan sejarah, dari tentara Pol Pot yang membunuh anak kecil dengan cara melemparnya ke pohon demi menghemat peluru; people power Manila yang bengong menemukan ribuan pasang sepatu Imelda Marcos dalam istana negara ketika rakyatnya tak hidup layak; Little Boy di Hiroshima; ziarah Anne Frank; potongan hati Trunojoyo yang dimakan para bupati; Goebbels yang meracun keenam anaknya, menembak istrinya, lalu bunuh diri. Namun kegagalan menata konten kepala dan cerita, menjadikan buku sebagai etalase kaca tak tertata: berisi, tapi orang gagal melihat indahnya.

tapi pelajaran taktik demo, situasi penjara, perjalanan sejarah bangsa, pemikiran2 tokoh filsafat atau ekonomi, OK.

membaca buku ini ada keasyikan tersendiri...