Burung Kolibri Merah Dadu

Burung Kolibri Merah Dadu

Pernahkah terlintas dalam pikiranmu,tentang seseorang yang hadir di beranda?Dialah yang menangkap setiapperasaan bimbang dan cemasmuPernahkah engkau benar-benar merasa takjub,ketika ia mengatakan: "Burung kolibri merah dadu itu kuterbangkan dari hatiku, hanya untukmu.

Jantungnya berdebar dan merasa tubuhnya gemetar: "Mengapa kutemukan ini di bulan Februari?" ***"Cerpen-cerpen karya Kef dala buku ini adalah model cerpen yang menghanyutkan kita untuk bersimpati, bahkan jatuh cinta, kepada tokoh-tokoh di dalamnya.--Asma Nadia, CEO Lingkar Pena Publishing House"Tanpa meninggalkan kualitas bertutur lewat irama dan diski yang elegan, ia tetap mampu memanjakan imajinasi penggemar cerita romantis.

Sepertinya pembaca harus bersiap untuk bertekuk lutut oleh pesona cinta yang tersulam indah dalam untaian kalimat merah dadu.

Read Online Burung Kolibri Merah Dadu

Saya baru tahu kalau pengarang buku ini adalah penulis yang terkenal pada masanya majalah Anita Cemerlang, Gadis, dan majalah remaja lainnya di tahun 1980-an. Testimoni dari dua orang sahabat Kurnia Efendi, yaitu Tina K. Kumpulan Cerpen yang dimuat di buku ini adalah cerpen yang sudah diterbitkan di berbagai media cetak seperti Anita Cemerlang, Citra Media , Femina, Nova, Gadis, Jawa Pos. Kurun waktu penerbitannya juga sangat beragam. Setelah cerpen terakhir (selamat datang matahari), satu lagi testimoni datang dari sahabat Kurnia, yakni Arya Gunawan. Selain itu, saya bukanlah angkatan pembaca Anita Cemerlang, ceritanya banyak berbumbu romantis, berimajinasi tinggi, dan minim konflik.yah namanya juga kumpulan cerpen untuk hari valentine gitu kali ya.

Cerpenis yang cukup produktif ini pertama kali menorehkan namanya sebagai penulis pada 1978 di sebuah majalah remaja melalui sebuah cerpen bertajuk Ulang Tahun Arie. Bahkan, bolehlah dikatakan, Kef demikian cerpenis ini disapa para karibnya dibesarkan oleh majalah khusus cerpen itu bersama-sama sederet nama lainnya : Sanie B.Kuncoro, Nestor Rico Tambunan, Tina K, dll. Pada era 80-an, Anita Cemerlang menjadi satu-satunya majalah yang khusus memuat cerpen remaja. Jika hendak membandingkan cerpen-cerpen (remaja) Kef di buku ini dengan novel-novel teenlit yang sempat mewabah beberapa waktu lalu, cerpen-cerpen Kef jadi terasa kuno. Karenanya Kef lalu berharap buku ini bisa menjadi referensi bagi remaja masa kini mengenai cerpen zaman bapak-ibu mereka muda dulu. Selain itu, melalui antologi ini kita bisa mencermati tumbuh kembang kualitas kepenulisan seorang Kurnia Effendi cerpenis yang bersetia di jalur cinta dari masa ke masa. Beberapa penghargaan yang telah diraihnya dari berbagai ajang sayembara cukup menjadi bukti kualitas tulisan-tulisan lelaki kelahiran 46 tahun yang lalu ini.

Rasa penasaran saya hilang diganti perasaan "ah ini pasti ujungnya gini" atau ketika akhirnya saya tetap membaca pelan-pelan seperti orang yang dipaksa menghabiskan minuman tapi dia sudah kembung akan muncul celetukan "tuh kaaan.. Karena ketika kita membacanya berurutan seperti ini,ada rasa penasaran apakah cerpen pertama tadi berkaitan dengan cerpen ke-7 atau apakah yang ini adalah penceritaan dari sisi perempuan membalas cerpen sebelumnya yang melihat dari sisi laki-lakinya.

rasanya lebih lempeng dan nggak mengharu biru kayak buku ini.. (jd inget sama orangnya) soory pak KeF, karena bener, ini bukan genre yang cocok untuk saya..

Dari kumpulan cerpen yang ada, saya menyukai cerpen pertama yang berjudul Angsa Putih.

Kumcer yang pernah diterbitkan pada selang waktu 80an akhir s/d 90an awal pada majalah remaja di eranya ini, saya rasa jika dibaca oleh remaja pada jaman sekarang pasti membuat iri.

buku ini bukan buku favoritku...

Meski tidak tergila-gila, saat itu beberapa cerita memang aku suka, termasuk beberapa karya Kurnia Effendi.

Karyanya, cerpen maupun novelet yang tak terbilang jumlahnya telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional. Puisinya bisa ditemukan dalam berbagai antologi, yakni Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh, Bandung, Juli 1985), Sajak Delapan Kota (Kompak, Pontianak, 1986), Malam 1000 Bulan (Forum Sastra Bandung, 1990 dan 1992), Potret Pariwisata dalam Puisi (Pustaka Komindo, 1991), Perjalanan (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Gender (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1994), Bonzais Morning (Denpasar, 1996), Dari Negeri Poci III (Yayasan Tiara Jakarta, 1996), Trotoar (Roda-roda Budaya Tangerang, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Jakarta dalam Puisi Indonesia Mutakhir (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Kompas, Juni 2001), Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Kompas, Juli 2003), Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Mahaduka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, 2005), Antologi puisi tunggal bertajuk Kartunama Putih (Penerbit Biduk, Bandung, 1997). Sedangkan cerpen-cerpen yang lain berserak dalam pelbagai antologi bersama, antara lain 20 Tahun Cinta (Senayan Abadi Publishing, Juli 2003), Wajah di Balik Jendala (Lazuardi Publishing, 2003), Kota yang Bernama dan Tak Bernama (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Addicted 2U (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Jl. Asmaradana (Penerbit Buku Kompas, 2005), Ripin (Penerbit Buku Kompas, 2007). Pada Juli 2003, diundang Teater Utan Kayu untuk membaca cerpen dalam Panggung Prosa Indonesia Mutakhir. Pada akhir tahun 2003, kembali diundang DKJ untuk membaca cerpen dalam Temu Sastra Kota.